“Jakarta Bernapas Berat” Kemacetan Parah dan  Kebijakan Ganjil-Genap Baru Picu Keluh Kesah Warga Ibu Kota

jakarta87 Views
banner 468x60

Ket photo (istimewa) ilustrasi

Antasenabuletin.id,Jakarta – Pagi hari di Jakarta kembali diwarnai oleh lautan merah lampu rem kendaraan yang tak bergerak. Sejak awal Juni 2026, kemacetan parah melumpuhkan sejumlah arteri utama seperti Jalan Sudirman-Thamrin, Jalan Gatot Subroto, dan akses tol dalam kota.

banner 336x280

 Penyebabnya bukan hanya volume kendaraan, melainkan kombinasi antara puncak proyek konstruksi MRT Fase 2A dan LRT Jabodebek, serta pemberlakuan aturan ganjil-genap yang diperketat hingga mencakup jalan-jalan sekunder tertentu.

Bagi para pekerja kantoran dan pelajar, situasi ini bukan sekadar gangguan lalu lintas. Ini adalah penyiksaan harian yang menguras waktu, energi, dan kesabaran.

 “Saya berangkat jam 5 pagi, tapi baru sampai kantor jam 9. Itu pun belum makan pagi karena macet total di depan Bundaran HI,” keluh Rina, seorang karyawan swasta di kawasan SCBD, dengan wajah letih. (11/6/2026)

Kebijakan pemerintah DKI Jakarta untuk memperluas area ganjil-genap demi mengurangi kepadatan justru menuai protes keras. Banyak warganet merasa aturan ini diterapkan tanpa solusi transportasi publik yang memadai. Angkutan umum masih dianggap kurang nyaman, tidak terintegrasi sempurna, dan tidak menjangkau semua wilayah permukiman.

“Kami dipaksa naik mobil pribadi karena opsi lain tidak layak. Lalu disalahkan karena bikin macet. Ini paradoks,” tulis seorang pengguna Twitter dalam utas viral yang telah dibagikan ribuan kali.

Di sisi lain, proyek infrastruktur raksasa yang sedang berlangsung memang bertujuan untuk masa depan yang lebih baik. Namun, dampak jangka pendeknya terasa sangat menyakitkan bagi masyarakat kecil.

 Pedagang kaki lima di sekitar lokasi konstruksi melaporkan penurunan pendapatan drastis karena akses pelanggan tertutup. Ojek online juga mengeluhkan waktu tempuh yang membengkak, membuat penghasilan mereka anjlok.

Gubernur DKI Jakarta, dalam konferensi pers , meminta maaf atas ketidaknyamanan ini dan menjanjikan percepatan penyelesaian proyek serta penambahan armada bus listrik transjakarta.

 “Kami sadar ini berat. Tapi kita sedang membangun tulang punggung transportasi masa depan. Mohon bersabar,” ujarnya.

Namun, kata “sabar” terasa mahal bagi mereka yang setiap hari bertarung dengan waktu dan nafkah.

Komunitas pecinta transportasi berkelanjutan mendesak pemerintah untuk lebih transparan dalam manajemen lalu lintas selama masa konstruksi. Mereka menyarankan sistem traffic light pintar, jalur khusus darurat, dan subsidi transportasi umum yang lebih nyata. “Jangan hanya menghukum pengemudi, tapi berikan alternatif yang manusiawi,” tegas aktivis transportasi, Budi Setiawan.

Jakarta memang kota yang tak pernah tidur, tapi belakangan ia tampak lelah. Di balik gemerlap gedung pencakar langit dan janji kota cerdas, ada jutaan jiwa yang terjebak dalam kemacetan yang seolah tak berujung

Mereka menunggu bukan hanya jalan yang lancar, tapi juga kebijakan yang mendengarkan denyut nadi rakyatnya. Karena pada akhirnya, kota dibangun untuk manusia, bukan sebaliknya.(Red)

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *