Di H4 Pencarian Arif, Cinta Ibu Melawan Ganasnya Laut Subi “Tak Apa Angin Kencang, Asal Anak Bisa Pulang”

Natuna777 Dilihat

ANTASENABULETIN.ID, NATUNA – Hari keempat (H4) pencarian nelayan Arif (26) yang hilang di perairan barat Pulau Subi sejak Kamis (18/6/2026) mencatatkan sejarah ketangguhan yang tak ternilai. Di tengah kondisi cuaca yang memburuk dan angin laut yang berhembus kencang, sosok ibu kandung korban tampil sebagai protagonis utama. Dengan wajah tegar namun mata berkaca-kaca, ia nekat duduk di haluan depan pompong kayu, memimpin doa dan harapan di garis terdepan lautan Subi.Senin,22 Juni 2026

Ibu Arif di depan haluan pompong langsung mencari di laut subi

Video dokumentasi yang beredar di grup warga Subi menampilkan momen haru yang sulit dilupakan. Sang ibu, mengenakan baju merah khas dan kain batik, duduk kokoh di bagian paling depan perahu meski ombak mulai meninggi. Ia menggenggam erat selembar kain—mungkin pakaian atau selendang milik Arif—seolah itu adalah tali penghubung terakhir dengan anaknya.

Pesan yang ia sampaikan dalam video tersebut berbunyi sangat menusuk kalbu: “Tidak apa-apa, saya rela pergi mencari anak saya hari ini. Tidak apa-apa menghadapi beratnya laut, karena saya kasihan melihat istri dan cucu-cucu saya yang masih menunggu di rumah.”

Kalimat “saya rela” bukan tanda kepasrahan, melainkan deklarasi cinta tanpa syarat. Bagi seorang ibu, badai sekuat apapun di Laut Natuna tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit jika harus kehilangan anak. Kehadirannya di atas perahu adalah bukti bahwa pencarian ini bukan sekadar operasi SAR, melainkan perjuangan darah daging yang suci. Ia rela bertaruh nyawa demi memastikan keluarga kecil anaknya tidak ditinggalkan dalam ketidakpastian.

Nelayan Subi bernama Arif yang belum ditemukan di laut subi

Kondisi perairan Subi pada H4 memang menantang. Angin kencang membuat permukaan laut bergelombang dan perjalanan dengan pompong tradisional terasa lebih berat serta berisiko. Namun, tekad ibu Arif sama sekali tidak gentar. Ia memilih posisi strategis di haluan perahu, seolah ingin menjadi mata pertama yang menangkap bayangan anaknya di tengah birunya laut yang ganas.

Ibu Arif di depan pompong langsung turun ke laut Subi mencari anak ya walaupun kondisi kencang

Bagi para nelayan dan tim SAR gabungan yang mendampinginya, kehadiran sang ibu justru menjadi penyemangat terbesar yang tak tergantikan oleh teknologi manapun. Jika seorang ibu saja berani menghadapi maut demi memanggil pulang anaknya, maka tidak ada alasan bagi siapa pun untuk berhenti mencari. Sinergi antara radar KRI Sutedi Senoputra-378, sonar Basarnas, puluhan pompong nelayan, dan sekarang: doa serta keberanian maternal seorang ibu, menjadikan operasi H4 ini sebagai wujud gotong royong manusia yang sesungguhnya.

Sementara sang ibu bertarung dengan ombak di laut, istri dan anak-anak Arif menjadi penjaga harapan di darat. Mereka adalah alasan mengapa sang ibu harus tetap tegar. Ribuan warga Subi dan Natuna yang tidak bisa ikut melaut mengirimkan doa melalui media sosial, menciptakan jaringan spiritual yang membungkus seluruh area pencarian.

Pencarian H4 ini mengajarkan kita tentang arti ketangguhan manusia di hadapan takdir. Kapal perang boleh sebesar gunung, sensor boleh secanggih apapun, namun cinta seorang ibu adalah kekuatan yang tak terukur dan tak terkalahkan.

Semoga Allah SWT meridhai langkah sang ibu, meredam angin di perairan Subi, dan mempertemukan kembali Arif dengan pelukan hangat ibunya. Karena di balik setiap ombak yang memecah, ada doa ibu yang tak pernah tenggelam. (Kalit)