Satintelkam Polres Natuna Verifikasi Isu Solar Langka, Pertamina Pastikan Stok Aman

Lainnya, Natuna328 Dilihat

NATUNA, ANTASENA BULETIN — Beredarnya pemberitaan mengenai antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi di SPBU Coco Natuna, Ranai, Kecamatan Bunguran Timur, mendapat perhatian dari Satuan Intelijen dan Keamanan (Satintelkam) Polres Natuna.

Pada Jumat, 21 Agustus 2026 sekitar pukul 08.00 WIB, Satintelkam Polres Natuna melakukan patroli siber terhadap sejumlah media online yang memuat informasi terkait kondisi pasokan solar di Kabupaten Natuna.

Salah satu pemberitaan menyebutkan adanya kelangkaan solar yang menyebabkan antrean panjang kendaraan lori di SPBU Coco Natuna. Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti Satintelkam Polres Natuna dengan melakukan koordinasi langsung bersama pihak Pertamina Fuel Terminal Kabupaten Natuna dan manajemen SPBU Coco Natuna.

Langkah verifikasi tersebut dilakukan untuk memastikan apakah kondisi yang diberitakan merupakan kelangkaan BBM secara keseluruhan atau berkaitan dengan mekanisme penyaluran dan ketersediaan stok harian di tingkat SPBU.

Kasatintelkam Polres Natun,AKP S. Surbakti SH menegaskan, setiap informasi yang berkembang di ruang publik, khususnya menyangkut kebutuhan dasar masyarakat seperti BBM, perlu diverifikasi agar masyarakat memperoleh informasi yang utuh dan tidak menimbulkan keresahan.

“Setiap informasi yang berkembang di media, khususnya yang menyangkut kebutuhan dasar masyarakat seperti BBM, menjadi perhatian kami. Kami tidak hanya melihat pemberitaan, tetapi melakukan koordinasi langsung dengan pihak Pertamina dan manajemen SPBU untuk memastikan kondisi sebenarnya di lapangan,” tegas Kasatintelkam Polres Natuna.(21/8)

Pertamina: Tidak Ada Kelangkaan BBM di Natuna

Dari hasil koordinasi tersebut, Kepala Pertamina Fuel Terminal Kabupaten Natuna, Ade Pranoto, menegaskan bahwa tidak terjadi kelangkaan BBM di Kabupaten Natuna.

Menurut Pertamina, stok BBM di terminal masih berada dalam kondisi relatif aman. Namun, pada kondisi tertentu, penyaluran BBM di tingkat SPBU berlangsung lebih cepat sehingga dapat menyebabkan kekosongan sementara, terutama menjelang akhir pekan.

Untuk jenis biosolar, rata-rata ketahanan stok di terminal disebut mencapai sekitar 14 hari. Sementara kuota biosolar untuk SPBU tercatat sekitar 30 kiloliter (KL) dengan pola penyaluran sekitar 5 KL per hari.

Pembagian kuota dilakukan berdasarkan kebutuhan dan hasil koordinasi dengan pihak terkait, termasuk BPH Migas dan Pertamina, dengan tujuan menjaga agar BBM subsidi tetap tepat sasaran.

Pertamina juga menjelaskan bahwa mekanisme distribusi ke wilayah kepulauan sangat dipengaruhi faktor logistik. Pengiriman menuju pulau-pulau bergantung pada jadwal kapal dan sistem tol laut. Kondisi cuaca juga dapat memengaruhi kelancaran distribusi.

Untuk menjaga ketersediaan stok, pengiriman BBM dijadwalkan dilakukan pada Jumat. Apabila suplai belum mencukupi kebutuhan, pengiriman akan dilanjutkan hingga Senin.

Secara keseluruhan, penyaluran BBM di Kabupaten Natuna disebut mencapai sekitar 220 KL per hari untuk seluruh produk, sementara catatan estimasi lainnya berada di kisaran 170 KL, termasuk kebutuhan PLN.

SPBU Coco: Solar Masuk Sekitar Pukul 11.30 WIB

Sementara itu, Pengawas Lapangan PT Pertamina Retail SPBU Coco Natuna, Ade Samulo Putra, memberikan klarifikasi terkait foto antrean kendaraan yang muncul dalam pemberitaan media online.

Menurutnya, foto antrean tersebut bukan menggambarkan kondisi pada Jumat pagi, 21 Agustus 2026. Pasalnya, pasokan solar baru masuk ke SPBU sekitar pukul 11.30 WIB.

Meski demikian, pihak SPBU mengakui bahwa stok solar untuk nelayan dan masyarakat umum memang masih terbatas, yakni sekitar 10 ton per hari.

Untuk mengantisipasi antrean kendaraan yang berpotensi mengganggu lalu lintas, pihak SPBU akan melakukan perbaikan mekanisme pengambilan solar.

Kendaraan roda empat maupun roda enam yang melakukan pengisian diharapkan tidak memarkir kendaraan terlalu lama di kawasan SPBU maupun ruas jalan raya karena dapat mengganggu pengguna jalan lainnya.

Saat ini, jumlah kendaraan R4 dan R6 yang rutin menggunakan BBM solar subsidi di SPBU Coco Natuna tercatat sekitar 73 kendaraan.

Sementara untuk nelayan terdapat sekitar 120 rekomendasi. Berdasarkan surat rekomendasi, kuota pengambilan mencapai 2 ton dalam satu bulan, dengan mekanisme pengambilan sebanyak 12 jeriken per minggu.

Setiap pengambilan diwajibkan membawa surat rekomendasi serta identitas diri asli. Ketentuan tersebut diterapkan untuk mencegah penyalahgunaan surat rekomendasi oleh pihak lain.

Pihak SPBU juga memastikan akan terus berkoordinasi dengan kepolisian terkait perkembangan stok BBM maupun persoalan di lapangan.

Stok SPBU Bersifat Harian

Dari hasil koordinasi, diketahui bahwa persoalan utama yang perlu menjadi perhatian adalah kapasitas stok di tingkat SPBU yang pada dasarnya diperhitungkan untuk kebutuhan harian.

Tidak terdapat cadangan besar yang dapat disimpan untuk beberapa hari sekaligus. Stok yang tersedia dihitung berdasarkan kebutuhan harian dan setelah tersalurkan akan kembali dilakukan pengisian dari terminal BBM.

PT Pertamina Patra Niaga memiliki dua terminal BBM di Kabupaten Natuna, yakni Terminal Ranai dan Terminal Selat Lampa, yang menjadi bagian dari sistem distribusi BBM untuk masyarakat di wilayah Kabupaten Natuna.

Dengan kondisi geografis Natuna sebagai wilayah kepulauan, faktor cuaca dan jadwal transportasi laut menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan distribusi.

Satintelkam Perkuat Monitoring

Satintelkam Polres Natuna menyatakan akan terus melakukan monitoring terhadap perkembangan pasokan dan distribusi BBM di wilayah tersebut.

“Kami akan terus melakukan monitoring dan koordinasi bersama Pertamina, BPH Migas serta pihak terkait lainnya. Apabila ditemukan adanya penyimpangan dalam distribusi maupun persoalan yang berpotensi mengganggu ketertiban masyarakat, tentunya akan kami tindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku,” tegas Satintelkam.

Kepolisian juga menilai pengawasan bersama antara aparat penegak hukum, Pertamina, BPH Migas dan masyarakat penting untuk memastikan BBM subsidi benar-benar diterima masyarakat yang berhak.

Satintelkam juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi dan dapat menyampaikan setiap persoalan terkait distribusi BBM melalui saluran yang dapat dipertanggungjawabkan.

Langkah verifikasi ini sekaligus menjadi upaya kepolisian memastikan persoalan antrean BBM tidak berkembang menjadi keresahan masyarakat maupun gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).

Dengan demikian, berdasarkan hasil koordinasi Satintelkam Polres Natuna dengan Pertamina dan pengelola SPBU, isu yang berkembang saat ini bukan merupakan kelangkaan BBM solar secara keseluruhan di Kabupaten Natuna, melainkan adanya keterbatasan stok harian di tingkat SPBU serta penyaluran yang pada waktu tertentu berlangsung lebih cepat dari pasokan berikutnya.

Pertamina dan pihak SPBU pun diminta tetap menjaga kelancaran distribusi, sementara kepolisian akan terus memantau perkembangan di lapangan agar kebutuhan masyarakat terhadap BBM tetap terpenuhi dan penyalurannya berjalan sesuai ketentuan.(Kalit)