Antasenabuletin.id,Natuna, – Bupati Natuna Cen Sui Lan kembali menunjukkan keberpihakannya kepada nelayan lokal. Di tengah keresahan masyarakat pesisir terhadap keberadaan kapal ikan asing dan berbagai persoalan di Laut Natuna Utara, Cen Sui Lan mengambil langkah tegas dengan mempertemukan seluruh pemangku kepentingan dalam sebuah dialog strategis untuk mencari solusi nyata bagi perlindungan nelayan Natuna.
Bertempat di Ruang Rapat Lantai II Kantor Bupati Natuna, Rabu (10/6/2026), Cen Sui Lan memimpin langsung Dialog Penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Ground Kapal Ikan Asing, yang dihadiri unsur TNI AL, Bakamla, KKP, DPRD Natuna, Pertamina, HNSI, Syahbandar, para camat, hingga perwakilan nelayan.
Langkah tersebut menjadi bukti bahwa Pemerintah Kabupaten Natuna tidak tinggal diam melihat berbagai keluhan yang selama ini dirasakan para nelayan yang menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir.
Dalam forum itu, Cen Sui Lan menegaskan bahwa nelayan Natuna harus mendapatkan rasa aman saat melaut. Menurutnya, laut bukan hanya sumber penghidupan masyarakat, tetapi juga simbol kedaulatan bangsa yang wajib dijaga bersama.
Kehadiran jajaran TNI Angkatan Laut, Bakamla, dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam dialog tersebut menjadi bagian dari upaya Bupati Natuna untuk memastikan negara hadir di tengah masyarakat yang selama ini berada di garis depan wilayah perbatasan Indonesia.
Dukungan terhadap langkah Bupati Natuna itu juga datang dari Danguspurla Koarmada I Laksamana Pertama TNI Nurlan yang menyatakan kesiapan TNI AL mengawal aktivitas nelayan Natuna yang beroperasi secara sah di wilayah perairan Indonesia.
“Kalau memang mereka diberikan hak pengelolaan di wilayah ZEE, kami akan dengan senang hati memberikan pengawalan. Semakin banyak kapal ikan Indonesia hadir di Laut Natuna, semakin menunjukkan bahwa wilayah itu adalah milik kita,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi angin segar bagi nelayan Natuna yang selama ini mengharapkan perlindungan lebih kuat ketika beraktivitas di Laut Natuna Utara yang berbatasan langsung dengan sejumlah negara.
Sementara itu, Danlanal Ranai Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan juga menegaskan bahwa TNI AL siap memperkuat koordinasi dengan nelayan melalui jaringan pos-pos pengamanan yang tersebar di Pulau Laut, Subi, Midai, dan Serasan.
Menurutnya, nelayan merupakan mitra strategis dalam menjaga wilayah laut Indonesia dari berbagai bentuk pelanggaran yang dilakukan pihak asing.
Bagi Cen Sui Lan, perlindungan nelayan bukan sekadar program kerja, melainkan bagian dari perjuangan menjaga masa depan Natuna. Sebab, nelayan adalah garda terdepan yang setiap hari mempertahankan eksistensi Indonesia di Laut Natuna Utara.
Karena itu, selain membahas keamanan laut, Bupati Natuna juga mendorong penyelesaian persoalan distribusi BBM bagi nelayan agar aktivitas melaut tidak terganggu dan hasil tangkapan dapat terus meningkat.
Langkah cepat yang dilakukan Cen Sui Lan mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena menunjukkan kepedulian nyata terhadap masyarakat pesisir yang selama ini menjadi salah satu kelompok paling rentan menghadapi berbagai tantangan di wilayah perbatasan.
Di tengah dinamika geopolitik dan ancaman kapal asing yang masih membayangi Laut Natuna Utara, Cen Sui Lan ingin memastikan satu hal: nelayan Natuna tidak boleh berjuang sendirian. Negara harus hadir, pemerintah harus mendengar, dan seluruh kekuatan harus bersatu menjaga laut serta kesejahteraan masyarakatnya.
Melalui dialog tersebut, Bupati Natuna kembali menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama nelayan, memperjuangkan hak-hak mereka, sekaligus menjaga kedaulatan Indonesia di beranda terdepan NKRI. (kalit)













