Antasenabuletin.id,Natuna – Dua tahun, satu minggu, dua hari. Itu lamanya Tulus, SH, MH mengemban amanah sebagai Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejaksaan Negeri Natuna. Tapi dampaknya? Tak terukur. Ia bukan hanya meninggalkan jabatan ia meninggalkan hati, kenangan, dan janji untuk terus menjaga Natuna dari jauh.
Bukan karena jabatannya tinggi, tapi karena kehadirannya nyata. Dari ruang intelijen hingga pulau-pulau terluar, dari penyuluhan hukum di desa terpencil hingga snorkeling di perairan eksotis, Tulus hadir bukan sebagai pejabat, melainkan sebagai bagian dari masyarakat.
“Banyak kenangan di Natuna. Yang paling berkesan saya bisa berkeliling hampir seluruh pulau-pulau di Natuna untuk melakukan penyuluhan hukum, sambil mengenal masyarakat dan adat istiadat di Natuna. Selain itu saya juga pernah snorkeling, diving, naik gunung hingga manjat tebing,” ujar Tulus dalam pesan perpisahannya yang menyentuh.(11/6/2026)
Ia tak sekadar menjalankan tugas. Ia merasakan Natuna. Dan itulah yang membuatnya berbeda.
Dalam wawancara terakhirnya sebelum mutasi ke Sub Bagian Pembinaan Kejari Batam, Tulus menyampaikan metafora indah yang langsung viral di kalangan pegiat budaya dan pemerhati daerah perbatasan:
“Natuna itu ibarat wanita yang cantik, mempesona. Namun dia juga bisa rapuh sehingga perlu dirawat dan dijaga.”
Kalimat itu bukan sekadar puisi. Itu adalah seruan. Seruan agar pembangunan yang masuk ke Natuna tidak merusak, tapi memberdayakan. Agar kekayaan alamnya tidak dieksploitasi, tapi dilestarikan. Agar potensi manusianya tidak dibiarkan tertinggal, tapi dikembangkan.
Selama bertugas, Tulus aktif menyapa masyarakat, menghadiri acara adat, bahkan ikut serta dalam kegiatan pariwisata lokal. Ia percaya bahwa penegakan hukum tidak boleh kaku harus manusiawi, harus dekat, harus dimengerti oleh rakyat.
Kini, tongkat estafet telah diserahkan kepada Adit Patria, SH., MH., yang resmi menjabat sebagai Kasi Intel baru. Tapi warisan Tulus? Itu akan terus hidup dalam bentuk kesadaran hukum yang mulai tumbuh di pelosok Natuna, dalam bentuk kepercayaan masyarakat terhadap institusi kejaksaan, dan dalam bentuk cinta tulus seorang jaksa yang memilih untuk hadir, bukan hanya bertugas.
Bagi masyarakat Natuna, Tulus bukan lagi sekadar nama di struktur organisasi. Ia adalah simbol pengabdian tanpa pamrih, sosok yang membuktikan bahwa pejabat negara bisa jadi teman, pendengar, dan penjaga mimpi bersama.
Dari beranda terdepan negeri, kami ucapkan terima kasih, Pak Tulus. Semoga di tempat tugas baru, Anda tetap membawa semangat Natuna cantik, tangguh, dan penuh harapan.(kalit)















