Turnamen Domino—Permainan Berakhir, Persaudaraan Tetap Abadi

Opini985 Dilihat

Opini
Dr. H. Tirtayasa, M.A.

Kader Seribu Ulama Doktor MUI-Baznas RI Pusat, Imam Besar Masjid Agung Baitul Izzah Islamic Center Natuna

Turnamen domino sering dipandang hanya sebagai ajang hiburan, silaturahmi, dan adu strategi. Di atas meja permainan, batu-batu domino disusun dengan penuh perhitungan. Setiap langkah membutuhkan kecermatan, kesabaran, dan kemampuan membaca situasi. Namun, di balik permainan yang sederhana itu, terdapat pelajaran yang sangat berharga tentang kehidupan.

Batu domino mengajarkan bahwa tidak semua kesempatan dapat dimanfaatkan sekaligus. Ada saatnya seseorang harus menahan diri, menunggu waktu yang tepat, dan memilih langkah yang paling bijaksana. Demikian pula kehidupan. Tidak semua keinginan harus segera dipenuhi. Orang yang mampu mengendalikan dirinya sering kali lebih berhasil daripada orang yang selalu tergesa-gesa.

Allah SWT berfirman:

«وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ»

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216).

Ayat ini mengajarkan bahwa manusia tidak selalu mengetahui mana langkah terbaik. Dalam permainan, strategi yang tampak menjanjikan bisa berakhir dengan kekalahan. Dalam kehidupan pun demikian. Karena itu, setiap ikhtiar harus disertai kerendahan hati dan tawakal kepada Allah.

Turnamen domino juga mengajarkan sportivitas. Tidak ada pertandingan tanpa pemenang dan yang belum berhasil. Kemenangan hendaknya melahirkan rasa syukur, bukan kesombongan. Kekalahan hendaknya menjadi pelajaran, bukan permusuhan. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا»

“Janganlah kalian saling iri, saling membenci, saling membelakangi, tetapi jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengingatkan bahwa persaudaraan jauh lebih berharga daripada kemenangan sesaat. Jangan sampai sebuah permainan yang seharusnya menjadi sarana mempererat silaturahmi justru merusak hubungan antarsaudara.

Lebih jauh lagi, setiap turnamen pasti memiliki batas waktu. Ketika pertandingan selesai, batu-batu domino dikumpulkan kembali, meja dibersihkan, para peserta pulang ke rumah masing-masing. Tidak ada seorang pun yang terus membawa kemenangan itu sepanjang hidupnya.

Bukankah dunia ini juga demikian?

Jabatan akan berakhir. Kekayaan akan ditinggalkan. Popularitas akan dilupakan. Bahkan tubuh yang kita banggakan suatu hari akan kembali menjadi tanah. Allah SWT berfirman:

«كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ»

“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” (Q.S. Ali ‘Imran [3]: 185).

Karena itu, pertandingan terbesar bukanlah di atas meja domino, melainkan di medan kehidupan. Yang dipertaruhkan bukan piala atau hadiah, melainkan iman, kejujuran, amanah, dan akhlak.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ»

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan agar berbuat ihsan (kebaikan) dalam segala sesuatu.” (H.R. Muslim).

Hadis ini mengajarkan bahwa apa pun aktivitas kita, termasuk ketika mengikuti perlombaan atau pertandingan, harus dilandasi dengan kejujuran, etika, dan penghormatan kepada sesama.

Maka, jika hari ini kita mengikuti turnamen domino, jadikanlah ia bukan hanya sebagai ajang mencari kemenangan, tetapi juga sebagai latihan mengendalikan emosi, menghormati lawan, menerima kekalahan dengan lapang dada, dan mensyukuri kemenangan tanpa merendahkan orang lain. Sebab karakter seseorang sering kali lebih terlihat ketika ia sedang menang maupun ketika ia sedang kalah.

Pada akhirnya, batu-batu domino akan kembali masuk ke dalam kotaknya. Begitu pula manusia, pada akhirnya akan kembali kepada Penciptanya. Yang dibawa menghadap Allah bukanlah jumlah kemenangan yang pernah diraih di dunia, melainkan kejujuran yang dijaga, persaudaraan yang dipelihara, dan amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas. Maka, bertandinglah dengan sportif, bersainglah dengan bermartabat, dan pulanglah dengan hati yang tetap bersaudara. Itulah kemenangan yang sesungguhnya di sisi Allah SWT.

Ket photo Dr. H. Tirtayasa, M.A. dan photo H.Raja Mustakim Sedang bermain Batu Domino

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *