ANTASENABULETIN.ID,Natuna – Masyarakat di sejumlah pulau di Kabupaten Natuna meminta pemerintah mengevaluasi rute operasional Kapal Roro BN-01 dan BN-03. Perubahan pola pelayaran dinilai berdampak pada mobilitas warga, distribusi logistik, hingga pelaksanaan tugas aparatur di wilayah kepulauan.
Saat ini, BN-01 melayani lintasan Tanjung Uban–Kuala Maras (Letung)–Matak–Midai–Sedanau–Penagi. Sementara BN-03 melayani lintasan Tanjung Uban–Tambelan–Sintete–Serasan–Subi–Penagi.
Masyarakat menilai perubahan tersebut menyebabkan penumpang dari Serasan maupun Subi yang hendak menuju Midai tidak lagi dapat melakukan perjalanan secara langsung. Mereka harus transit di Pelabuhan Penagi untuk menunggu kapal berikutnya, sehingga waktu tempuh menjadi lebih lama.
Kondisi serupa juga dirasakan dalam pengiriman barang. Barang yang sebelumnya dapat diangkut dalam satu perjalanan kini harus melalui proses bongkar muat di Penagi sebelum dilanjutkan ke tujuan akhir. Selain menambah biaya, pola tersebut dinilai memperpanjang waktu distribusi.
“Kalau dulu perjalanan bisa langsung, sekarang harus menunggu kapal berikutnya di Penagi. Waktu tunggunya bisa sampai beberapa hari,” kata salah seorang warga Subi. 7 Juli 2026
Menurut masyarakat, dampak perubahan rute juga dirasakan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang menjalankan tugas kedinasan ke wilayah Serasan dan Subi.
Perjalanan yang sebelumnya dapat diselesaikan dalam waktu sekitar tiga hari kini dapat berlangsung hingga enam hari atau lebih karena harus menyesuaikan jadwal kapal.
Masyarakat mengusulkan agar pemerintah kembali mengkaji pola pelayanan kedua kapal. Salah satu opsi yang dinilai lebih efektif adalah menerapkan sistem rute berputar, yakni BN-01 berlayar dari Tanjung Uban dan BN-03 dari Sintete sehingga kedua kapal saling bertemu di tengah lintasan dan tetap melayani seluruh wilayah tanpa harus menjadikan Penagi sebagai titik transit utama.
Warga juga mengaku terdapat penumpang kapal Roro yang memilih melanjutkan perjalanan menggunakan pompong dari Midai menuju Subi karena tidak tersedia koneksi langsung kapal Roro. Kondisi tersebut dinilai berisiko, terutama saat cuaca di perairan Natuna sedang kurang bersahabat.
Masyarakat berharap kehadiran Kapal Roro BN-03 dapat benar-benar meningkatkan konektivitas antarpulau di Natuna, bukan justru menambah panjang waktu perjalanan dan mempersulit mobilitas warga.
Menurut mereka, penambahan armada seharusnya membuat pelayanan transportasi laut semakin efektif, mempercepat distribusi barang, serta memudahkan akses masyarakat di wilayah kepulauan.

Karena itu, Pemerintah Kabupaten Natuna diharapkan dapat menyampaikan aspirasi tersebut kepada instansi terkait agar rute pelayanan kedua kapal dievaluasi dan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. (Kalit)

















