ANTASENA BULETIN.ID, NATUNA — Kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan menjadi perhatian serius aparat keamanan di Kabupaten Natuna. Tidak hanya mengganggu kualitas udara di daratan, asap tebal juga berpotensi membahayakan keselamatan nelayan yang beraktivitas di perairan.
Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Effendie bersama KBO Satpolairud Polres Natuna IPDA Guru Kinayan Sembiring mengingatkan masyarakat pesisir agar tidak memaksakan diri melaut ketika jarak pandang terganggu oleh kabut asap.
“Kabut asap tebal di tengah laut dapat membuat jarak pandang menurun drastis. Kondisi tersebut meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan, tabrakan antarkapal, kandas, hingga nelayan kehilangan arah dan kesulitan menentukan posisi kapal.” Ucap Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Effendie (23/8/2026)
Selain mengancam keselamatan pelayaran, paparan asap dalam waktu lama juga dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki aktivitas di luar ruangan.
Polairud Polres Natuna mengingatkan sedikitnya beberapa risiko yang perlu menjadi perhatian nelayan.
Pertama, gangguan pernapasan. Asap kebakaran mengandung partikel halus yang dapat mengiritasi saluran pernapasan dan mengganggu kenyamanan bernapas, terlebih ketika seseorang berada di ruang terbuka dalam waktu lama.
Kedua, jarak pandang terbatas. Kabut asap dapat mengurangi kemampuan nelayan melihat kapal lain, garis pantai, rambu navigasi maupun objek berbahaya di sekitar perairan.
Ketiga, risiko kehilangan arah. Ketika jarak pandang terbatas, nelayan dapat mengalami kesulitan menentukan posisi dan arah perjalanan, terutama apabila kondisi cuaca juga tidak bersahabat.
Keempat, risiko kecelakaan meningkat. Kombinasi antara jarak pandang buruk, gelombang, cuaca dan aktivitas kapal dapat meningkatkan potensi kecelakaan di laut.
Untuk mencegah kejadian yang tidak diinginkan, nelayan diminta melakukan sejumlah langkah sebelum memutuskan berangkat melaut.
Pertama, gunakan perlindungan pernapasan yang memadai. Nelayan yang harus beraktivitas di tengah kondisi berasap dianjurkan menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, seperti N95 atau KN95.
Kedua, periksa informasi cuaca dan kondisi perairan sebelum berangkat. Nelayan diminta tidak hanya mengandalkan perkiraan pribadi, tetapi memperhatikan informasi cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi.
Ketiga, jangan memaksakan diri melaut ketika jarak pandang sangat terbatas. Jika asap terlalu tebal dan kondisi perairan tidak memungkinkan untuk berlayar dengan aman, keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Polres Natuna juga mengingatkan masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kebakaran lahan yang berpotensi meluas.
Masyarakat dapat memanfaatkan Call Center 110 untuk menyampaikan laporan kepada kepolisian sehingga dapat segera ditindaklanjuti sesuai kondisi di lapangan.
KBO Satpolairud Polres Natuna IPDA Guru Kinayan Sembiring menegaskan bahwa jajaran Polairud akan terus bersinergi dalam menjaga keamanan masyarakat pesisir dan keselamatan aktivitas di wilayah perairan Natuna.
“Polairud siap melindungi masyarakat dan menjaga keamanan perairan. Kami mengimbau nelayan untuk selalu mengutamakan keselamatan, terutama ketika kondisi jarak pandang terganggu oleh kabut asap,” ujar KBO Satpolairud Polres Natuna, Ipda Guru Kinayan Sembirng(23/8/2026)
Di tengah kondisi Karhutla yang masih menjadi perhatian, keselamatan nelayan bukan sekadar persoalan navigasi, tetapi menyangkut keselamatan manusia.
Jangan pertaruhkan nyawa demi ikan. Jika laut tidak aman untuk dilayari, pulang dan tunggu sampai kondisi memungkinkan. Karena keluarga menunggu kepulangan, bukan sekadar hasil tangkapan.(Kalit)













